A Man With So Many Thoughts: TIGA.

Apakah ini yang dinamakan sebagai Pencarian Jati Diri?

**

Waktu terus berjalan tanpa henti. Menunda geraknya waktu—bisa dibilang—adalah tindakan mustahil. Sehingga, ragam hal dan keadaan yang terjadi akan selalu muncul layaknya “deadline” suatu media cetak, tepat waktu. Berkaitan dengan sang Waktu, dua tahun sudah kulalui masa sulitku yang diiringi oleh bermacam-macam cerita. Melaju begitu cepat, secepat momen-momen bahagia—selain momen pahit—yang dirasakan olehku. Aku telah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta dan berhasil meraih mimpiku dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Universitas pilihanku, Institut Teknologi Bandung. Rasa senang dan bangga kuemban selama hampir dua tahun ini. Namun, perasaan tidak dapat berbohong. Hatiku semakin hancur—karena keluarga ku dan Dian, khususnya orangtua ku. Polemik dan drama dalam keluargaku memantapkan putusanku untuk hengkang dari rumah dan merantau jauh ke Bandung. Semakinku sedih dengan kenyataan pahit akan keadaan dan kemauan aku dan Dian yang membuat jarak dan waktu memisahkan. Dian tetap tinggal di Jakarta, melanjutkan hidup akademisnya di Universitas Indonesia. Sementara aku? Merantau jauh dari Ibukota. Alih-alih menuntut ilmu di Kota Pelajar—Bandung, aku dengan sengaja memilih untuk memulai hidup baru di sini sejak masih duduk di kelas dua sekolah menengah atas. Dan, dengan tujuan vitalku yang berlangsung dari dua tahun lalu hingga sekarang, yaitu penjelajahan pikiranku akan kehidupan.

Dari dua tahun lalu hingga sekarang, aku hanya menjelajahi kenyataan-kenyataan hidup yang berhubungan dengan Uang dan Keluarga. Tidak ada hal lain yang signifikan. Mungkin karena kebutuhan hidupku yang masih—selalu—dipenuhi oleh kedua orangtua ku, serta beban moral dan fisik yang kupikul tidak seberat beban yang kuhadapi jika hidup sendiri. Apa yang aku dapat selama kurang lebih dua tahun ini, tidak hanya kenyataan pahit akan keluargaku yang hancur, tetapi juga peliknya kisah cinta pada diriku. Orangtua ku sudah lama berpisah, bahkan Ibu ku sudah lama menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Perhatian pun sirna seiring dengan berjalannya waktu. Didukung pula dengan keberadaan Ayah Tiriku yang—ternyata—memiliki pasangan lain selain Ibu ku. Aku kesal dan marah. Tetapi hal tersebut hanya sekadar ekspresi yang selalu kupendam sendirian. Biasanya aku mencurahkan isi hatiku dengan bercerita kepada Dian, tetapi sekarang? Ia pun pergi. Pesan yang selalu kudapati dari orangtua ku hanyalah sebuah formalitas belaka. Bahkan, mereka tidak akan mengirimkanku pesan jika aku tidak memulainya. Miris. Dan, ironis.

Aku mengerti sulitnya kehidupan yang kujalani ini memang berakar dari masalah cinta dan kasih yang tulus. Di tahun kedua aku menjalankan misiku untuk mencari arti dari kehidupan yang sesungguhnya, kudapati jawaban akan pertanyaan-pertanyaan di pikiranku atas sebab dari kenapa kehidupan keluargaku tidak harmonis layaknya keluarga teman-temanku yang lainnya; Ketulusan Cinta dan Kepercayaan. Tulusnya cinta dan kasih keluarga seyogyianya tidak dapat putus. Begitupun dengan kepercayaan yang akan selalu berlandaskan perdamaian. Tetapi, orangtua ku yang berpisah sejakku kecil, membuat sirna sinar mentari yang dipenuhi cinta untukku saat itu. Selain keberadaan orang lain, Uang pun menjadi faktor pendukung mengapa aku ditelantarkan. Objek tersebut dengan sekejap dapat membuat orang buta, sesaat atau bahkan permanen. Begitupun yang orangtua ku hadapi. Apapun materi diberikan kepadaku tanpa asumsi kasih sayang dan perhatian. Sehingga orangtua ku menelantarkanku ke dalam lubang hitam yang mereka buat dengan sendirinya. Sungguh kenangan yang menguras energiku jika mengenangnya.

Kesendirianku di Kota Pelajar ini menjadikanku seorang pribadi yang mandiri sebelum waktunya. Aku tidak tinggal dengan siapapun kerabat yang kudapati di kota ini. Hanya sendiri. Padahal adik-adik kandung dari Ayahku tinggal di daerah tempatku tinggal. Aku menyewa sebuah kamar kecil di tengah kota Bandung. Walaupun kecil, tetapi memiliki arti dan makna besar karena aku membiayainya dengan keringat dan kerja kerasku sendiri di setiap bulannya. Dengan rasa syukur yang kupanjatkan di setiap harinya, aku berhasil menjadi asisten dosen di kampus ku. Alih-alih mencari nafkah untuk kehidupan mandiriku, kesibukan akan produktifitas yang kujalani setiap harinya membuahkan hasil yang cukup signifikan terkait sejumlah pikiranku akan masalah-masalah besar yang kuhadapi; kesendirianku, hancurnya keluargaku, hilangnya perhatian dari orangtuaku, perginya sosok seorang wanita yang kugemari, dan pertanyaan-pertanyaanku tentang kehidupan, serta misterinya yang sulit untuk kupecahkan.

“Hai Bena, apa kabar?” Kudapati pesan singkat dari Dian melalui e-mail. Tergelak aku akan kejutan. Setelah hampir dua tahun menghilang sejak berpisah di wisuda sekolah kami. Sontak aku terbangun dari tempat duduk dan bergegas menghampiri tempat tidur yang terletak di samping meja belajar tempat aku membuka e-mail tersebut. Kubuka ponsel ku dan dengan gesit membuka laman internet untuk mencari tahu tentang informasi mengenai Dian.

Processed with VSCO with a6 preset

Aku terdiam. Membisu sesaat. Kurasakan getaran kecil yang menjalar dari belakang tubuhku hingga ke kepala dan genggaman ku. Ponsel ku pun terjatuh ke lantai. Sontak aku pun duduk di tempat tidurku seraya perlahan meneteskan air mata. “Betapa jahatnya Dian, apa maksudnya menghubungiku jika ia sudah bersama orang lain?!” Pikirku pilu. Wanita yang kugemari—hingga kucintai—sedari duduk di bangku sekolah menengah atas itu sedang bersanding dengan seorang laki-laki bertubuh besar, tinggi, dan memakai kacamata, ialah Kevin, kakak kelas kami yang dulu sempat mencuri hatinya. “Dan, ternyata ini benar-benar terjadi” Jawabku dalam hati. Semakin aku tidak percaya akan hidup melalui peristiwa ini. Kecewa, sedih, dan gundah kurasakan malam itu.

Kupendam berbagai cerita dalam benak dan hati ku. “Akupun bertekad untuk mencoba banyak hal baru karena faktor kekecewaanku.” Niatku dalam hati. Malam pun semakin larut, dinginnya udara malam itu di kota Bandung membuat ku bergegas pergi ke suatu bar dekat dengan kampus. Sendiri, hanya diselumuti oleh kelam nya drama yang menghantuiku dengan pikiran-pikiran negatif mendukung emosiku. Aku duduk dengan muram dan geram. Kupesan minuman beralkohol terus menerus hingga membuatku tak sadarkan diri. Penglihatanku mulai kabur dengan lanturan kata-kata yang tidak beraturan. Aku mabuk. Bersipu dalam lara seraya berusaha keras melupakan kekecewaan dan amarahku pada masalah-masalah yang ada. Hingga beberapa saat kemudian, datanglah seorang pria bertopi dengan tubuh besar menghampiriku dari kejauhan dan mengajak berkenalan. Akupun meladeninya dengan ramah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s