A Man With So Many Thoughts: EMPAT.

Ada apa denganku?

“Nampaknya kau sedang gelisah. Bukan karena alkohol yang membuatmu mabuk, tetapi karena masalah yang kamu sedang hadapi. Benarkah demikian?” Tanya Pria bertopi dengan tubuh besar tersebut. “Oiya, namauku Syailendra Benara, biasa dipanggil Ben.” Lanjut Pria itu berbicara memperkenalkan dirinya seraya menghampiri wajah Bena yang tertidur di atas meja dengan lipatan kedua tangan yang menutupi kepalanya.

Ah ya? Halo! Kau ini siapa?” Jawabku dengan kaburnya penglihatan seraya beranjak bangun dari kursi tinggi bar tersebut.

“Haha, kamu benar mabuk ternyata. Panggil aku Ben.”

“Hah? Itu namaku, kau bergurau ya?” Sontak aku menjernihkan pandanganku yang kabur ke wajah pria asing bertopi tersebut. “Apa kau berpura-pura jadi diriku? Atau kamu memang mengikutiku melalui dunia maya? Atau bahkan, mematai-matai ku untuk seseorang?” Sautku dengan geram.

“Hey, santai.. aku tau kau ini mabuk”

Aku pun duduk tersipu akan baiknya orang asing yang baru saja berkenalan itu. Kepala pusing dengan pandangan kabur membuatku sulit untuk berfikir jernih. Aku terdiam dalam gaung sorak ramainya musik yang dilantunkan bar itu seraya kebingungan dari sosok orang asing yang menghampiriku ini.

I am fine. Just calm down. I can put myself properly to where it should be. Goodnight.”

Loh mau kemana? Aku antarkan kamu pulang ya, Ben. Namamu sama denganku kan? Kalau begitu panggil saja aku dengan sebutan, Nara, agar tidak keliru.”

“Kau ingin menculikku?! Kita baru saja kenal beberapa menit lalu dan kau ingin mengajakku pergi tanpa tujuan yang jelas?! Kau gila Ben”

Perseteruan diantara mereka pun usai dengan matinya lampu bar tersebut. Dengan sopan dan bijaksana, Nara mengajakku untuk pulang dan menghantarkannya ke tempat ia tinggal. Tubuhnya yang kuat dan besar mampu mengangkatku dengan satu tangannya saja dan menyandarkannya ke pundak. Dibawanya aku ke mobil sedan berwarna hitam dengan tergopoh-gopoh merasakan lelah. Larutnya malam membuat kejantanan Nara dengan sikap bijaksananya tercurah saat hendak mengantarku pulang ke rumah kos yang berada di daerah Dago Atas, Bandung.

“Hey Bena, aku rasa kita sudah sampai di rumah kos mu, apakah benar ini? Aku mengikuti instruksimu dengan hati-hati, walaupun kamu selalu melanturkan kata-kata asing yang aku tidak mengerti dan ketahui itu siapa.” Tanya Nara dengan lembut dan halus kepada Bena. Sontak ia pun terbangun dari pejaman larut tidurnya saat mendengar Nara bergumam di kupingnya.”

“Iya betul. Thanks bro. Whoever you are, yang jelas, kamu adalah orang baik.”

Wait, kau membiarkanku pulang sendiri tanpa mengantarmu masuk ke dalam kamar? Yakinkah kau bisa berjalan dengan keadaan seperti ini?”

“Tenang. Aku ini profesional, pun pintar. Apapun dapat kuatasi. Terima kasih sekali lagi”

“Baiklah. Take care Bena” Sautnya dari dalam mobil seraya melihatku pergi yang bergegas keluar dari dalam mobil tempatku duduk dan tidur karena mabuk. Pandangan aneh dan sinis sontak ku berikan ketika mendengar ucapan terakhir yang dilontarkan oleh nya. Keadaanku pun menjadi lebih baik dari sebelumnya, tersadar secara perlahan dari mabuk yang disebabkan kandungan alkohol dalam tubuhku. Dan, aku pun berfikir. “Siapa dia?”.

**

Larutku terbuai oleh galau yang selama ini menghantuiku. Aku terus memikirkan Dian dengan segala asumsi dan persepsi buruk atas apa yang ia perbuat kepadaku. Tidak hanya itu, aku  pun kerap berfikir dengan pikiran jernih dan-tentunya-positif atas apa yang terjadi tadi malam, tetapi juga bertanya-tanya kepada diriku sendiri oleh sosok asing yang menolongku dari gelapnya malam dan keadaan mabuk tersebut. “Siapakah dia? Dan mengapa ia sangat baik kepadaku?”. Sontak ku bangun dari tempat tidur untuk menuju ke kamar mandi seraya mendengan ketukan pintu dari luar kamarku. Segera kubuka pintu kamar ku dan penjaga rumah kos memberitahu akan adanya keberadaan seseorang yang mencariku di luar.

“Siapa pak? Cowok? Namanya dia ga sebut siapa?” Tanyaku pelan-pelan agar tidak terdengan.

“Iya kak, dia ga sebut namnya siapa tapi yang jelas laki-laki. Punten ya mas.” Jawab bapak penjaga rumah kos sambil berjalan aka merunduk dengan kepala yang dianggukan seraya berjalan ke kamarnya.

“Oh iya terima kasih ya pak” Jawabku perlahan disertai dengan kebingungan. Kubiarkan pintu kamar terbuka dan bergegas mengambil jaket dan pergi ke luar rumah untuk menemui laki-laki tersebut. Perlahan ku berjalan seraya mengintip dari balik jendela rumah kos, kulihat sosok laki-laki bertubuh besar yang kuingat ia adalah orang yang menghampiri ku di bar tadi malam dan menghantarkanku pulang. Semakin ku bingung dengan keadaan. “Apa maksudnya ya? dan ada apa? Aku bahkan tidak mengenali orang ini sama sekali”. Namun, dengan niat baik karena sikapnya yang juga baik kepadaku, kuhampiri dirinya dan mencari tahu apa sebeneranya niat di balik semua perbuatannya.

“Halo Bena, masih pusing dong kepalanya semalem abis mabok? Hahaha” Saut Nara dari luar pagar rumah kosku.

“Hahaha. Udah enggak kok” Balasku singkat seraya membukakan pintu pagar dan berdiri di depan laki-laki asing tersebut. “Ada apa kalo boleh tau? Siapa namanya sorry, semalem ga denger kan tau sendiri gue mabok”.

“Iya iya, gue Syailendra Benara, nama nya hampir sama, tapi panggil aja Nara biar ga keliru kalo mau manggil” Jawab laki-laki berubuh besar dan tinggi semampai dengan jaket ketat yang terbentuk dari tubuh kekarnya.

“Oh gitu, iya deh Nara, maaf kalo boleh tau ada apa ya? Ada yang ketinggalan kah sampe balik lagi?”

“Yakin mau ngobrol di luar sini aja nih? Ga dipersilakan masuk gitu biar sopan?”

“Hah?!”

“Hahaha kok kaget gitu sih? Becanda kok, maksud gue kesini tuh cuma pengen ngecek aja gimana keadaan lo Ben. Dan untungnya baik-baik aja”

“Haha ga kaget, cuma emang bingung aja like out of nowhere

“Yaudah yuk pergi biar kita bisa ngobrol-ngobrol, tujuan gue berikutnya emang mau ngajakin lo pergi kemana gitu kek, lo belom makan kan Ben?” Rasa takut kurasakan secara berlebih sejak ia mengutarakan ajakannya kepadaku. Namun, aku tetap berfikir positif atas apa yang ia akan perbuat dan yang telah ia perlakukan kepadaku hingga saat ini. Sehingga, kuterima ajakan pergi nya walau hanya sesaat.

“Tunggu di mobil aja, gue ganti baju dulu abis itu kita pergi”

“Ok Ben” Dibalasnya ucapanku dengan senyum tipis dan manis nya seraya berjalan ke arah mobil yang akan dikemudikan olehnya.

Waktu pun bergulir dengan cepat, tanpa memerhatikan keadaan dan situasi sekitar. Teriknya cuaca Bandung siang itu sama sekali tidak dirasakan oleh aku dan laki-laki paruh baya yang sedang pergi berjelajah kota pelajar tersebut. Nara yang berlakon sebagai visitor dari Ibukota Jakarta memintaku untuk mengajaknya berkeliling Bandung hari itu, mulai dari makan siang, bercengkrama membahas apapun, hingga matahari memberikan rambu pertukaran zona keadaannya ke waktu malam. Aku pun tersbipu akan pintarnya Nara memberikan rasa kenyamanan dalam hal berbincang-bincang. Sampai akhirnya aku tahu siapa ia sebenarnya. Untunglah kekeliruanku terhadap dirinya selama ini salah, aku kira ia adalah orang asing yang ingin melakukan hal jahat kepadaku, ternyata sebaliknya. Kami pun bertukar nomor ponsel saat aku hendak bergegas pergi keluar mobilnya dan bergerak menuju kamar kos ku. Sontak aku terkejut beberapa saat saat Nara menarik pergelangan tanganku dengan sengaja. Aku pun menoleh kepadanya dengan pandangan dan ekspresi bingung. Tanganku tetap dicengkram nya dengan keras, sampai-sampai Nara menyempatkan momen itu dengan mengucapkan terima kasih melalui lisan dan senyuman manis, serta kecupan di pergelangan tanganku. Aku terheran-heran dan kaget.. “What’s wrong with me?!”

(TO-BE CONTINUED).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s