Can We Just Leave Our Past Life?

tumblr_inline_o1xx8ocjtx1scyze1_500

“Damn.. I can’t.” -Libra.

“I told you, I wanted to be friends with you. (means.. couldn’t move on too)” -Aquarius.

“When I am done, it’s done.” -Taurus.

“Yes I can, but I still need that one IF I need something.” -Leo.

“Of course I can’t… if the attachment couldn’t be vanished.” -Cancer.

“I pretty much can do that, if I have a new person :)” -Virgo.

**

Tiga setengah bulan lamanya Ben menjalin hubungan dengan Kifani, begitupun lamanya ia melakukan persaingan ketat secara dingin dengan Ayla, mantan nya. Udara dingin di kala Rabu sore tersebut membuat suasana Ben menjadi semakin dingin dan mencekam dengan pikirannya yang selalu dihantui akan bayang-bayang Ayla— yang tidak dapat dengan mudah luput darinya. Ben yang sedang santai bercengkrama dengan kerabat dekat satu atar kos nya, Hanna Maulina dan Alin Rahayu, tiba-tiba terkejut dengan saut panggilan namanya dari luar kamar. “Ben.. ini aku Ayla.”

Damn.. mau apa dia? Kenapa tiba-tiba datang? Benar firasatku selama ini yang dihantui olehnya.” Pikir Ben dalam hati. Sontak Ben bangun dari duduknya dan berdiri sambil memerhatikan kedua temannya.

“Hah? Sumpah itu Ayla?! Ngapain nyet dia ke sini??” Bisik Hanna pada Ben dan Alin.

“Diemin aja, sumpah Ben lo diemin aja, ngapain lo ladenin lagi sih” Balas Alin geram.

“Gue juga gatau tiba-tiba dia dateng.. males sih tapi gimana dong nyet..”. Tidak ada pilihan lain keculai Ben menanggapi Ayla yang tetap bersikeras menyaut dari balik pintu kamarnya, “Ben, kamu di dalem kan?” Tanya Ayla dengan keras.

Pintu kamarnya pun dibuka dengan ekspresi wajah yang— seolah olah —gembira, secara terpaksa. “Ay? Ngapain kamu kok tiba-tiba kesini ga bilang aku? Eiya kenalin itu Hanna dan Alin” Lantur Ben seraya membuka pintu dan menunjuk kedua temannya tersebut untuk diperkenalkan kepada Ayla.

“Hai, halo Hanna dan Alin..” Jawab Ayla dengan pandangan kosong sambil melambaikan tangannya ke hadapan mereka. “Temenin aku makan malem yuk, sebentar aja” Tanya Ayla dengan tatapan matanya yang penuh dengan keseriusan.

Sontak Ben terkejut dengan ajakannya, ia pun semakin bingung dengan situasi saat itu seraya berfikir perihal ajakan Ayla tersebut. “Ngapain ya? Apa jangan-jangan dia mau ngajak balikan?” Pikir Ben dalam hati seraya berjalan ke arah tempat tidurnya dan mengambil telepon genggam untuk mengecek pesan dari Kifani, ia pun tidak memberikan respon apa-apa akan ajakan Ayla.

“Gimana Ben? Eh gapapa kan gue culik dulu Ben nya Han, Lin?” Tanya Ayla seraya meminta izin kepada kedua temannya.

“Hahaha ya terserah Ben tuh gimana” Jawab Alin dengan ekspresi nyinyir seraya melihat ke arah Hanna. Hanna pun hanya diam seribu bahasa dengan ekspresi kosong, dengan isyarat yang menginformasikan secara tidak langsung bahwa Ben— seharusnya —tidak boleh menanggapi ajakan Ayla. Kedua kerabatnya ini adalah orang-orang yang mengerti Ben secara keseluruhan baik dari gerak-gerik dan perilakunya, karena kondisi mereka yang tinggal satu atap dan bertemu— hampir —setiap hari. Sebagai kerabat dekat sehari-hari nya, Hanna dan Alin— bisa dibilang —memiliki peran penting dalam kisah dan kasih jalinan hubungan Ben dengan siapapun, karena hampir setiap hal baik, buruk, susah maupun senang, keduanya selalu menjadi wadah terbaik Ben sebagai tempat berbagi cerita dan bertanya akan kritik, saran, dan pendapat. Tidak heran jika keadaan saat itu menjadi drama akan kehadiran Ayla, didukung oleh ajakan makan malam secara tiba-tiba tanpa diketahui tujuannya.

tumblr_oh4d886pkl1um12aoo1_500

Hingga sampailah Ben dan Ayla di suatu restoran tak jauh dari rumah kos dan kampusnya. Perilaku Ayla yang berbeda terlihat dari bagaimana ia menyodorkan tempat duduk untuk Ben seraya menatap mata Ben tanpa henti hingga akhirnya ia duduk di tempatnya sendiri berhadapan dengan Ben. Tanpa mengulur waktu, Ayla pun sergap memanggil pelayan restoran dan langsung memesankan makanan favorit Ben “Ternyata dia masih inget apa yang gue akan selalu pesen kalo makan di sini, kenapa deh nih orang kok tiba-tiba aneh?”. Wajah bingung disertai dengan ekspresi dan gerak-gerik gelisah diutarakan Ben secara tidak langsung, berimplikasi pada bagaimana Ayla juga bersikap demikian.

“Kok jadi kaku-kaku gitu sih Ben hahahaha, santai aja sih kan ini kita cuma makan malem doang kaya biasa, karena aku lagi gabut aja di rumah ga ada orang.”

“Lah pacar kamu kemana emang?”

“Nah pacar kamu kemana?” Ayla bertanya dengan candaan, padahal ia tahu bahwa Ben menjalin hubungan jarak jauh dengan Kifani.

“Lah kan kamu tau aku LDR hahaha sepik ya”

“Nah gitu dong, jangan kaku-kaku.. biasa aja kali” Saut Ayla seraya tertawa kecil seolah-olah mengejek Ben.

“Ya abis aku bingung aja, udah sama-sama punya pacar gini, tiba-tiba kamu random ngajak aku ketemu, bahkan ke kosan aku tanpa ngasih tau”

“Ya aku kan emang gitu kan, kamu lupa aku gimana? hahaha”

“Hahaha, yaiya tapi kan, semenjak terakhir ketemu kamu, kayaknya kamu bangga banget tuh mamerin si pacar barunya, walaupun aku biasa aja lol” Jawab Ben dengan nada yang sedikit naik.

“Yee kenapa jadi emosi gitu ngomongnya hahaha, jadi… sebenernya aku pengen ngomong sesuatu sama kamu sambil ya.. catch up aja sama kehidupan kamu gimana sekarang”

“Aku gini-gini aja kok” Senyuman khas yang menjadi daya tariknya Ben untuk Ayla diekspresikan tepat di wajahnya seraya membuka pesan dari Kifani.

“Gimana kamu sama pacar kamu Ben? Baik-baik aja atau sering berantem? Hahaha” Pertanyaan yang dilontarkannya pun sudah mengarah ke hal serius. Sementara Ben, hanya terdiam menutup mulutnya dan sibuk bergelut dengan pesan di telepon genggamnya. Pesan yang dibalasnya pun tidak hanya dari Kifani, tetapi juga pesan yang ia dapat dari Hanna dan Alin dalam grup percakapan mereka di BBM, begitupun Berra. Sontak Ben pun terkejut dengan pesan yang ia dapat sesaat setelah bercengkrama melalui BBM dengan Hanna dan Alin membicarakan perilaku dan keanehan yang dilakukan oleh Ayla kepadanya malam itu.

“Ben, lagi apa kamuh?” Tanya Berra di pesan singkatnya.

Alih-alih sibuk dengan pesan-pesan yang dibalas oleh Ben melalui ponsel nya, Ayla pun geram dengan kebiasaan buruk Ben yang tidak disukainya sedari mereka menjalani hubungannya tempo dulu. “Matiin ah hp kamu, apaan sih orang kita lagi makan bareng gini, kamunya sibuk kaya ga anggep aku ga ada di sini, kebiasaan jelek kamu ga ilang deh Ben” Saut Ayla marah.

“Yakan makanannya juga belom dateng, abis mau ngomongin apalagi kita hahaha”

“Kamu kok jadi kaya ga ngehargain aku gitu ya Ben, udah untung gue ajak lo pergi makan”

“Hah? apa-apaan deh lo jadi marah gini?!” Lantur Ben emosi seraya berdiri dari tempat duduknya.

“Ya aku ajak kamu makan malem tuh emang pengen punya quality time sama kamu lagi aja Ben karena.. jujur aku kangen sama kamu!”

“Lo gila kali ya Ay, gue udah punya pacar! Dan, lo pun juga!” Teriak Ben dengan lantang seraya mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang untuk membayar makanan yang dipesannya, lalu bergegas pergi dari tempat mereka duduk. Ben pun pergi tanpa meninggalkan satu kata pun pada Ayla, suasana kembali terasa mencekam dan panas diantara kedua belah pihak, sehingga Ben pun memutuskan untuk kembali ke rumah kos nya dan tidak akan membiarkan Ayla menghampiri nya dengan langsung berlari ke keluar restoran. Ayla pun terdiam, kesal, dibarengi dengan perasaan gundah pada keadaan dan dirinya saat itu. Pesan pun tidak tersirat dan tersurat melalui media apapun, keadaan mereka pun semakin buruk.

Sesampainya Ben di kamar kos nya, Hanna dan Alin pun dengan santai hanya tertawa seraya melempari bantal dan guling ke arahnya akan situasi yang baru saja terjadi padanya. “Udah gue bilangin kan gausah diladenin, lo batu sih jadi anak, gue ngerti elu Ben, elu ga akan bisa deh berhubungan baik sama mantan gitu hadeeeuh…” Lontar Alin dengan tawa kecilnya, demikian juga Hanna yang setuju akan pernyataan Alin.

“Kesel banget gue sumpah, dia pake komentar karena gue sibuk sama hp gue, padahal ya emang gue lagi chat-chat an sm Kifani nyet, daripada gue ketauan” Jawab Ben geram sambil menahan amarahnya.

“Makanya jadi orang tuh setia dong kaya gue, kalo udah satu ya satu, biarpun ada itu mantan dateng walaupun putusnya baik-baik, gue ga akan pernah nge-iya in ajakannya untuk pergi, kecuali emang gue lagi dalam keadaan berantem sama pacar gue hahahaha” Jawab Hanna melanjutkan pembicaraan.

“Tapi emang gini deh nyet, gue bingung kadang sama keadaan, giliran gue udah punya pacar, ada aja gitu yang dateng ke hidup gue buat kontek-kontekan, apalagi mantan” Sontak Ben pun teringat akan pesan Berra yang diterimanya dan lupa untuk dibalas seraya melanturkan curahan hati nya kepada kedua kerabatnya di malam itu. Dengan sigap ia pun membalas pesan Berra secara singkat sambil balik bertanya.

“Ini lagi nyet, adalagi Berra yang waktu sebelum gue sama Ayla pernah gue deketin, inget ga?” Tanya Ben dengan ekspresi meyakinkan kepada Hanna dan Alin seraya meyodorkan pesan Berra kepada mereka berdua.

“Emang dasar nya aja lo gatel sih, semua diladenin, gausah di read lah apalagi bales kalo buat yang gitu-gituan sih! Gatau ah terserah lo Ben, pusing gue” Jawab Hanna. Alin pun hanya mengangguk setuju dengan jawaban yang dilontarkan Hanna tersebut.

“Hahaha ga gatel nyet, yaaa itung-itung berhubungan baik aja yagasih?” Saut Ben menyangkal seraya sibuk berbalas-balasan pesan dengan Berra dan Kifani.

2674b7db13117da0d7b1bfdf6576805e4631da56_1487326094

Di hari Jum’at siang, kembali Hanna, Alin, dan Ben berkumpul dan bercengkrama di kamar  kos milik Hanna, dengan perasaan excited yang dimiliki Ben karena menunggu kehadiran Kifani ke rumah kos nya untuk bertemu dan menginap. Ia menceritakan hal tersebut kepada Hanna dan Alin, demikian mereka pun menunggu kehadiran Kifani untuk melihat secara langsung bagaimana rupa dan bentuk fisiknya yang membuat Ben tergila-gila. Diintipnya pagar melalui jendela kamar Hanna dari lantai atas yang tepat mengarah ke arah pagar, dan masuklah Kifani ke dalam rumah kos tersebut. “Eh Kifani udah dateng, bye everyone hahahaha” Saut Ben seraya bergegas pergi keluar kamar Hanna dan menyambut Kifani di bawah.

“Na sumpah yuk kita sepik nunggu di balkon samping kamar lo, mau liat gue, pura-pura bego aja hahahaha” Ajak Alin dengan antusias.

“Yuk mbalin, gue juga penasaran hahahaha kek apasih bocah nya” Jawab Hanna setuju. Mereka pun bergegas berpura-pura sedang melihat ke arah luar rumah kos mereka melalui balkon.

Sontak akupun terkaget dengan keberadaan mereka di balkon yang jaraknya tidak jauh dari kamar kos Ben, walaupun ia pun mengerti maksud dan tujuan teman-temannya itu untuk apa. Ia pun langsung masuk ke dalam kamar tanpa mempersilakan Kifani untuk berkenalan dengan Hanna dan Alin. Sontak Kifani pun sadar dan bertanya, “Itu sahabat kamu yang setiap hari sama kamu bukan sih di kosan, si Hanna sama Alin kan? Kok diem awkward gitu dan ga ngenalin aku ke mereka? Haha” Tanya Kifani.

“Hahaha iya sengaja aku, mereka juga sengaja itu diem di balkon karena emang pengen ngeliat kamu… Na, Lin, kenalin.. ini Kifani” Saut Ben dari dalam kamar kos nya seraya menarik Kifani ke arah Balkon untuk dikenalkan kepada Hanna dan Alin.

“Halo.. oh jadi ini Ben hahahaha okeee” Saut Alin dengan lanturan ceplas-ceplos nya seperti biasa, sementara Hanna hanya tersenyum seraya menjabat tangannya dengan Kifani.

Beberapa menit setelah mereka kembali ke kamar masing-masing, Kifani dengan sergap memeluk Ben dari belakang, melampiaskan rasa kangennya yang selama ini dipendam. Udara panas di hari Jum’at pun terasa dingin dengan kemesraan yang mereka lakukan. Hingga sampailah pada keadaan Kifani memergoki layar ponsel Ben dan mendapati pesan singkat yang dikirimkan oleh Berra, dan Ayla.

“Ben, pergi sama aku yuk malem ini” Tanya Berra melalui Line. Demikian Ayla melalui pesan singkat BBM, “Gila ya kamu main pergi gitu aja rabu malam kemarin, bener-bener kamu kaya gapunya hati Ben.” Pesan Ayla. Sontak Kifani pun terbangun dari tidurnya dan menjauhi Ben dengan penuh tatapan kesal.

“Kamu bener-bener gabisa lepas dari mantan ya Ben? Dan, bahkan sampai Berra pun muncul, hahaha oke kalo gitu :)” Jawab Kifani dengan senyuman pahit.

Ben pun terdiam di tempat duduknya seraya memeluk guling dan tidak melontarkan sepatah kata pun… demikian ia terdiam tidak dapat melakukan apa-apa kecuali menggeram kesal akan keadaan yang mencekik dirinya.

**

Why couldn’t we just leave all the things in our past life? Pertanyaan yang sulit untuk dilepaskan hampir oleh setiap orang di dunia ini, selayaknya dihantui, mereka tidak dapat dengan mudah lepas dari kenyataan akan masa lalu yang hinggap tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pernyataan yang tepat dituju— terutama —untuk zodiak-zodiak seperti Libra, Aquarius, Cancer, dan Leo, juga Cancer. Mereka adalah zodiak-zodiak yang gemar bergelut dengan drama, namun tidak untuk Leo dan Virgo. Dilihat dari cerita di atas, Ben, sebagai Libra, tidak dapat lepas dengan masa lalu nya, baik itu berkesan, baik atau buruk keadaan itu. Demikian pula dengan Aquarius, terlihat dari bagaimana Ben menanggapi Ayla, padahal mereka sudah saling tahu bahwa hubungan mereka tidak lagi terjalin. Karakteristik dan sifat buruk Libra sangat menonjol di keadaan ini, it’s like they still want to get attached with the past life. Mereka yang kritis sangat mudah untuk luluh dengan momen-momen yang dimilikinya dengan mantan, atau bahkan siapapun.

Keadaan seperti ini berakibat buruk pada dirinya, walaupun mereka menyatakan diri mereka sebagai seseorang yangeasy-going dan flexible, tetap perasaan nya tidak dapat berbohong. Sementara Aquarius, tidak dapat luput dari masa lalu nya kepada orang yang menurutnya berarti dan cocok dari segi apapun, terutama kenyamanan, apapun hal yang ia bisa usahakan walaupun sudah memiliki pasangan baru, akan dilakukan olehnya untuk bisa merebut hatinya kembali. Aquarius yang bersifat egois, tidak sungkan untuk memaksakan kehendaknya agar bisa kembali mejalin hubungan dengan seseorang yang ia sangat sayangi, begitupun dengan Libra.

Berbeda dengan Leo dan Virgo. Karakteristik dan sifat mereka yang cenderung prinsipal dan komit, tidak akan terlalu menghiraukan masa lalu nya jika mereka sudah memiliki pasangan baru. Teruntuk Leo, mereka akan memanfaatkan orang-orang yang ada di masa lalu nya untuk keperluan pribadinya, apalagi jika mereka sudah menetapkan hati serta pikiran egois nya kepada seseorang tersebut sebagai ‘The one whom I really enjoy to be with, and the one whom I know that he/she loves me that much’, dengan jahat mereka akan mengandalkan keadaan tersebut untuk menarik hati mantan-mantannya hanya untuk keperluan, atau bahkan kepuasaannya sesaat. 

Sementara Virgo, pribadi yang berkarakter keras kepala, bisa dapat dengan mudah melepaskan masa lalunya, koneksi yang terjalin pun bahkan bisa dihilangkan secara sepihak, didukung oleh karakteristik dan sifat pribadinya yang angkuh serta bergengsi besar. Begitu pula dengan Taurus, walaupun dasar sifat mereka adalah orang-orang yang lemah akan rayuan dan kasih sayang tulus. Justru karena dua faktor terakhir itulah yang menjadikan mereka setia terhadap pasangan barunya dan melepaskan masa lalu dengan mudah. For Virgo and Taurus, “If you want to play that game, sure I can do that either”, karena secara umum, kedua zodiak tersebut adalah pribadi yang, jika dikecewakan, mereka akan kecewa dan menutup hatinya secara tegas.

Lain hal dengan Cancer, pribadi yang berkarakteristik lemah ini akan cenderung berusaha untuk masa lalu, mereka tidak akan pernah mudah melepaskan masa lalunya. Sifatnya yang mudah luluh dan tulus menjadikan pribadinya gemar disakiti oleh seseorang di masa lalunya, apalagi keadaan baik yang dimilikinya. Jika dalam keadaan desperate dan sudah memantapkan hatinya untuk seseorang di masa lalunya— yang mereka tidak bisa lepas —mereka tidak akan sungkan untuk menurunkan gengsi dan harga dirinya untuk kembali menghubungi orang tesebut, it’s like, past life is equel with their present.

((STAY TUNED FOR ANOTHER STORY))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s