CHAPTER 4 – Taurus x Libra, and The Sex.

taurus-and-libra-matches

“Okay case closed, let us fall in love again.” -Taurus.

“I.. I.. Ah, you know my feelings without having to declare it clearly.” -Libra.

“Whatever.. you’re so drama.” -Sagittarius.

“Just sex? Oh. Ok.” -Aries.

“I just love seeing you guys together.” -Leo.

**

Heningnya situasi di kala malam hari itu mencekamkan suasana, tidak hanya untuk hati dan pikiran Ben, tetapi juga hubungan antara ia dengan Kifani. Dengan kenyataan bahwa, Ayla telah berhasil berpaling dari hidup Ben semenjak peristiwa terakhir yang dialami oleh mereka berdua, namun polemik akan drama hubungan dari kisah percintaan Ben dan Kifani tak kunjung redam oleh perdamaian. Malam itu pun dihiasi amarah, gundah, dan kegelisahan di kedua belah pihak, mereka bercengkrama, bertengkar, serta berdebat dengan kepala dingin menyelesaikan permasalahan yang dialami melalui facetime. percakapan pun berlangsung hingga larut malam, sontak terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar kos Ben dengan kencang.

“Ben!!!! Halo!!! Buka dong, kebelet kencing niiiiiih!!!” Teriak Cohar Berland dari balik pintu di tengah malam yang sunyi tersebut, alih-alih berteriak kencang, ia pun tetap berteriak memanggil nama Ben seraya menghubunginya melalui selular teleponnya.

Cohar Berland, adalah teman kampus Ben, juga kerabat dekat nya yang sekaligus berperan sebagai tempat curahan hati Ben untuk hal apapun, begitu pun sebaliknya.

“Aduh ada-ada aja deh nih, iya iya Har, bentar… Sebentar Fan, aku bukain pintu dulu, ini si Cohar dateng tiba-tiba tengah malem.” Jawab Ben menggerutu kesal seraya bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu kamar untuk membukanya.

“Duh! Lama lo! Minggir-minggir! Kebelet nih”

Ben pun menutup pintu nya dengan tatapan hampa mengarah ke Cohar yang sedang berlari-lari kecil ke arah kamar mandi seraya berjalan kembali ke tempat tidur nya dan bercakap dengan Kifani. “Ada Cohar Fan, ngobrol aja gapapa, aku udah cerita-cerita tentang kamu juga kok ke Cohar, begitupun sebaliknya, kamu tau Cohar kan?” Tanya Ben kemudian.

“Iya” Jawab Kifani ketus. Amarah bercampur kesal bercampur dalam pikiran dan hatinya, tidak dapat dengan mudah lepas dari jeratan masalah yang membuat hubungan mereka goyah. Ben tetap memberikan alasan valid kepada Kifani akan siapa Berra, menjelaskannya secara jelas akan bagaimana keadaan yang sebenarnya.

“Lo mau kemana deh Har, kok gapake ngomong ke gue mau ke sini?” Tanya Ben sontak setelah Cohar keluar dari kamar mandi sambil menggesek-gesekan kakinya yang basah di keset.

“Gue mau dugem sama Ecky, Ale, Mepau, Juju, pokoknya sama anak-anak rame, tadinya mau ngajak lo, tapi… kayaknya lo lagi drama kumbara ya hahaha”

“Nah itu tuh Cohar ngajak pergi, aku udah ngantuk juga, pergi aja ikut” Saut Kifani menyelak pembicaraan Ben dan Cohar melalui facetime.

Eh Har, kenalin ini Kifani, saling tau kan kalian, kenalan resmi nya sekarang ya haha” Sambung Ben mengalihkan topik pembicaraan.

“Halo Kifani, sabar-sabar sama Ben ya hahaha.” Lontar Cohar dengan tawa kecilnya seraya melambaikan tangan sebagai simbol perkenalan ke arah layar ponsel yang diarahkan Ben kepadanya.

“Yaudah, kalo lo gaikut, nanti gue nginep sini ya Ben, jangan dikunci, takutnya lo udah tidur terus gue mabok hahahahaha, bye!” Saut Cohar kemudian seraya berjalan mengarah pintu dan keluar kamar

“Loh kok tumben kamu gamau ikut?” Tanya Kifani serius.

“Engga, emang aku maunya sama kamu aja sampe nanti tidur hehehe.”

Sontak Kifani hanya memberikan ekspresi bosan seraya memainkan laptopnya. Ben pun melanjutkan perbincangan akan kejelasan masalah diantara mereka, hingga waktu menunjukkan pukul tiga pagi kala itu, dengan usaha yang membuahkan hasil bahwa masalah mereka selesai dengan baik.

Akhirnya baik-baik lagi, namun ada sesuatu yang mengganjal di bingungnya pikiran Ben. Kenapa Kifani begitu cepat memaafkan?

Di hari Sabtu siang, Ben dan Cohar pun tergelak bangun dari tidurnya akibat bunyi ponsel yang berdering dari atas meja sebelah tempat tidur Ben. Ana Winata Calls. Ben pun terkejut dengan panggilan telepon yang ia dapat, sontak ia pun terbangun dari tempat tidur dan bertanya kepada Cohar.

“Har, liat deh siapa yang telepon hahahahahaha!” Tanya Ben seraya memberikan ponsel nya ke Cohar.

“Idih, ngapain lagi sih lo sama dia gila, emang lo sih yang suka cari gara-gara, bukannya lo lagi berantem sama Kifani ya karena masalah cewek lain?” Saut Cohar bingung.

“Hahaha enggak, udah baikan semalem, udah santai lagi, sssst diem!” Saut Ben terburu-buru seraya menerima telepon dari Ana.

“Halo Ana, apakabar? Hehe, kenapa nih tiba-tiba telepon?”

“Hai Ben, gapapa, I just want to check you out hehe, can we meet tonight at your place?” Tanya Ana menggoda.

“Oh hahaha, iya boleh, maybe, 8 o’clock?”

“Okay, I’ll see you then” Tutup Ana dari pembicaraan singkat mereka melalui telepon.

“HAHAHA!!” Tergelak tawa Ben ke arah Cohar seraya melempari bantal dan guling kecil dari tempat tidurnya.

“Ih sakit, gue udah ga ngerti lagi deh sama lo, gila!” Lantur Cohar geram seraya berbaring kembali ke tempat tidurnya sambil menarik selimut.

“Ya, sama dia sih gue cuma bakalan buat.. you know Har, fun things LOL. Abis gue bingung, semalem gue udah ngemis-ngemis minta maaf sampe akhirnya baikan, tapi kok kaya ada yang ganjel Har, yaudah gitu dia maafin seada-adanya dan balik kaya biasanya.”

“Ya dianya juga selingkuh kali makanya biasa aja.” Jawab Cohar tidak bergairah seraya memainkan handphone nya dari balik selimut.

Tepat pukul delapan malam, Ana pun sampai di rumah kos Ben dan langsung bergegas ke kamar nya. Mereka pun bercengkrama tentang kabar dan kisah kehidupan yang dijalani keduanya selama ini dengan hangat. Ben yang duduk di atas tempat tidur berhadapan langsung dengan Ana yang duduk di kursi meja belajar Ben yang bersebalahan dengan tempat tidurnya mulai memberikan gelagat-gelagat berbeda.

“Kamu mau minum?” Tanya Ben gugup.

“Gausah, udah kok tadi” Jawab Ana singkat seraya menjalarkan tangannya ke arah paha dan dada Ben. Gairah yang diselimuti oleh nafsu pun bergejolak diantara keduanya, Ben pun menarik Ana dengan kedua tangannya dan membawa nya ke atas tempat tidur seraya menatap mata dengan penuh kehangatan bak tidak memiliki komitmen dan ikatan dengan seseorang saat itu di pikirannya. Dan, keadaanpun semakin hangat dengan hubungan fisik yang dilakukan oleh mereka berdua, hingga berlangsung selama satu jam lamanya.

“Thanks ya Ben, I’ll see you around :)” Saut Ana dengan kedipan matanya seraya berjalan ke arah pintu kamar dan pergi keluar.

Ben terduduk diam sambil tersenyum, mengisyaratkan tidak adanya masalah yang muncul baik pada dirinya, maupun hubungannya dengan Kifani. Sontak ia pun langsung mengambil ponsel dari lemari baju nya dan bergegas menghubungi Kifani melalui facetime seperti malam-malam biasanya. Perbincangan berlangsung hingga larut malam dengan pernyataan mengejutkan dari Ben yang hendak ingin mengunjungi Kifani ke Bandung untuk bertemu dengannya.

Di detik-detik penghujung libur sementer ganjil tersebut, Ben bergegas menghabiskan akhir pekan nya di Bandung. Dengan mengandalkan travel Jakarta-Bandung, didukung oleh faktor rasa kangen yang dimiliki nya untuk bertemu dengan Kifani, ia rela menlampaui 125 KM perjalanan di sore itu.

Sesampainya Ben di Bandung beberapa jam kemudian, ia pun langsung menghampiri Kifani yang sedang duduk dengan kerabat dekatnya di suatu kafe terletak di daerah Dipatuukur, Bandung. Ia disambut oleh pelukan Kifani disertai perkenalan hangat dengan kerabat dekatnya, Anisa Nuraini atau yang kerap disapa Ica.

“Halo, ini Ben ya? I have heard so much about you :)” Saut Ica dengan senyuman seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ben.

“Hai Ica, hehehe masa sih? Cerita apa aja Kifani? Haha” Saut Ben gembira sambil tersenyum menatap mata Ica. “Kalian udah dari jam berapa di sini? Maaf yah lama, tadi agak macet soalnya di tol hehehe” Sambung Ben melontarkan topik pembicaraan di malam dengan dinginnya Bandung.

“Hahaha, ya gitu aja, kamu ke Bandung karena kangen yaaah sama Kifani? Hahahaha! I love seeing you both in this relationship lho actually :)” Lontar Ica dengan ekspresi senang akan pertemuan kali pertamanya dengan Ben di kala itu. Mereka pun menghabiskan waktu hingga dua jam lamanya untuk berbincang-bincang tentang apapun, hingga sampailah waktu mereka harus kembali ke rumah masing-masing, begitupun dengan Ben yang memutuskan untuk menginap di rumah Kifani.

Dinginnya Bandung kala itu menunjang keadaan mesra yang dilakukan Ben dan Kifani sesampainya mereka di kamar tempat singgah Ben malam itu, yaitu rumah Kifani. “Gapapa gitu aku nginep di rumah kamu? Ga ada orang apa?” Takut berisik lol” Tanya Ben dengan candaan seraya memeluk Kifani yang terbaring di atas tempat tidurnya dari atas tubuhnya.

“Ya logikanya, kalo ada orang rumah, aku ga ngebolehin kamu ke Bandung dan nginep tempat aku lah”

“Iya juga yah hahaha” Saut Ben pelan seraya mengarahkan wajah dan bibirnya ke arah Kifani. Malam yang begitu dingin tidak terasa akan panas nya gairah dan jalinan kisah yang mereka miliki saat itu. Kemseraan yang dimiliki mereka berlangsung hingga larut malam, hingga munculnya peertanyaan aneh dan mengejutkan dari Ben.

“Kok beda ya?” Tanya Ben heran.

“Hah? Beda apanya?”

“Ya ga kaya biasanya, kamu abis ‘main’ sama orang lain ya?” Ben dihantui kecemburuan berlebih seperti biasanya.

“Enggak, aku ga main sama siapa-siapa” Dan, keadaan pun kembali hening.

“Yaudah iya aku jujur nih sama kamu, maafin, aku sempet ‘fun’ sama orang lain, tapi itu pun juga cuma sekali, bener-bener sekali doang, setelah selesai pun yaudah aku langsung selesai, namanya juga kebutuhan kan, kita pun LDR masalahnya” Sambung Kifani dengan tatapan melas memohon maaf kepada Ben.

Damn, Karma does really exist. What should I do now?

Sumpah? Demi apa Fan?” Jawab Ben geram.

“Iya mas, tapi bener itu cuma sekali doang dan udah ga pernah lagi kok, toh kita kan ga ada ikatan apa-apa juga ngapain mesti saling cemburu? We have each other kok..”

What? Ga ada ikatan apa-apa? Jadi selama ini maksud nya hubungan kita apa ya?

Hmm iyaaa.. it’s okay kok as long as cuma ‘fun’ aja :)” Lontar Ben pasrah dengan tidak menghiraukan masalah tersebut lebih panjang. Ia pun membiarkan Kifani berhubungan fisik dengan orang lain karena ia pun juga melakukan hal tersebut terlebih dahulu dengan Ana tanpa sepengetahuan Kifani.

Beberapa saat kemudian setelah bergurau dan bercengkrama seperti biasanya, mereka terlelap akan kantuk yang menyelimuti keduanya. Berbaring di satu tempat tidur yang sama, diselimuti kehangatan akan mesranya mereka yang berpelukan seraya Kifani meletakkan kepalanya di atas dada Ben. Dinginnya situasi Bandung saat itu pun terkalahkan oleh aura hangatnya cinta yang terbentuk diantara keduanya, layaknya dunia milik mereka sepenuhnya.

But wait… no commitment? Jadi selama ini Kifani ga anggep dia pacaran sama gue? Pikir Ben gundah.

**

Hubungan hangat yang terjalin diantara Libra dan Taurus bagaikan analogi Udara dan Tanah yang saling mengisi dan berkesinambungan, tak akan lekang oleh batasan apapun. Begitupun dengan kisan Ben dan Kifani, apapun masalah yang dimiliki— jika tidak besar —akan terselesaikan berdasarkan asas kasih yang dijunjung oleh Taurus dan karakteristik serta sifat Libra yang penyayang dan apresiatif. Buruknya keadaan— sebenarnya —terletak pada Libra, mereka semacam pribadi yang tidak bisa lepas dari jeratan “fans” yang menghantui nya walaupun mereka telah berkomitmen dengan orang lain. Sifatnya yang easy-going terlampau jauh mengecewakan pihak yang menjalin hubungan dengannya, untungnya, Kifani sebagai Taurus, adalah pribadi yang berkarakteristik dan bersifat tulus akan kasih jika mereka sudah jatuh sayang dengan seseorang, apapun masalah yang muncul akan luluh dengan seketika jika mereka melihat peluang yang masih dapat muncul demi keberlangsungan rasa sayangnya akan hubungan yang dijalinnya tersebut. Tetapi, apa yang dipikirkan oleh mereka belum tentu selaras dengan apa yang dipikirkan oleh pasangannya. Mereka terkenal akan kesetiannya yang luar biasa, diikuti dengan pendiriannya yang teramat keras akan prinsip dan komitmen yang ingin dijalin, selain itu, mereka juga sesosok pribadi yang bisa menguatkan hati nya untuk berperan sebagai ornag yang jahat, jika mereka tidak melihat sesuatu yang baik untuk dirinya. Sifatnya yang ‘bodoamat’-an dan tidak mau ribet, terlihat dari bagaimana ia menanggapi dan menyelesaikan masalah yang pada hubungannya dengan Ben, begitupun juga terlihat bagaimana ia memberikan pernyataan terkait komitmen kepada Ben, pendirian yang berlandaskan prinsip dan komitmen kuatnya dipikirkan matang-matang, namun, sewaktu-waktu dapat berubah bergantung akan situasi dan kondisi yang dialami si Taurus.

Berbicara tentang hubungan Sex diantara Libra dan Taurus, keduanya merupakan zodiak yang tidak begitu menjunjung prioritas untuk dilakukan, namun tidak menutup kemungkinan untuk menjadikannya sebagai kebutuhan penting. Kenapa Libra tidak memperpanjang masalah saat Ben menangkapi Kifani yang berhubungan fisik dengan orang lain? Libra adalah zodiak yang mengandalkan justifikasi di setiap keadaan dan situasi, lebih tepatya, mereka tidak tertarik dengan perdebatan yang berujung masalah, apalagi pertengkaran. Tidak mau ribet, begitulah mereka. Terlihat dari bagaimana Ben menanggapi Kifani yang kedapatan berhubungan dengan orang lain selain dirinya. Ben tidak marah karena secara adil ia pun melakukannya, so… fair enough, he thought.

Munculnya Aries di hidup Libra adalah keadaan implisit dari cocok atau tidak cocoknya keberadaan hubungan mereka. Libra yang sangat talk-active tidak dapat sejalan dengan pemikiran Aries yang keras dan tidak suka ribet serta hal apapun yang bertele-tele. Konfrontasi akan keadaan perlu diperjelas pada bagian awal hubungan yang ingin dijalani, sehingga mereka pun tahu harus berbuat apa. Ben pun melontarkan penjelasan bahwa– akhirnya –hubungannya dengan Ana hanyalah berlandaskan nafsu semata, disebabkan oleh tidak didapatnya titik temu keberlangsungan hubungan yang baik, namun ingin tetap memiliki satu sama lain.

Sagittarius dan Leo yang cocok berhubungan baik untuk hal pertemanan muncul sebagai zodiak dari Cohar Berland dan Anisa Nuarini, berelemen Api, dengan kobaran semangatnya dalam menjalani hidup, terutama kisah dan kasih hubungan percintaan, mereka berlaku sebagai sosok pribadi-pribadi yang tepat berhubungan dengan Ben, Libra. Kecocokan implisit muncul diantara keduanya terlihat dari bagaimana mereka menanggapi Ben. Ica, kerabat Kifani yang baru saja berkenalan dengan Ben, terlihat begitu senang akan keberadaan nya untuk hidup Kifani yang notabene nya sebagai kerabat dekat Ica. Leo yang besifat simpatis dan empatis, jelas memperlihatkan kegembiraannya akan orang lain, berbeda dengan Sagittarius, zodiak ini adalah zodiak yang terkenal akan egoisme tinggi, sehingga wadah curahan hati yang didengarnya hanya akan bersifat sementara di telinga dan pikirannya, walaupun mereka adalah orang-orang yang sangat baik jika berhubungan dengan kerabatnya, apalagi kebaikan orang lain. Terlihat dari bagaimana Cohar berperilaku kepada Ben, menurut Sagittarius, hal yang berhubungan dengan drama tidak patut masuk ke dalam kamus mereka untuk hal percintaan, so as what you read above.. Cohar hanya berperan sebagai pendengar, bukan pemberi saran, bahkan tidak melontarkan ekspresi akan rasa senang yang dimilikinya ke orang lain. Sagittarius dan Leo, dua zodiak yang berlandaskan “I Love Myself rather than anyone.”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s